Membaca
Teks Cerita Anak
Tujuan
Pembelajaran:
Siswa mampu menceritakan kembali cerita anak yang dibaca.
Apakah kamu suka cerita anak? Pernahkah kamu membaca
teks cerita anak? Dapatkah kamu menceritakan kembali dengan menyebutkan hal-hal
yang menarik dan tidak menarik dalam cerita tersebut? Mampukah kamu
menceritakan cerita tersebut dengan bahasamu sendiri? Membaca teks cerita anak
termasuk ke dalam bentuk membaca indah. Membaca indah sering pula disebut
membaca emosional. Tujuan membaca indah adalah memperoleh nilai-nilai keindahan
lewat nada, irama, intonasi, dan gerak-garik mimik, serta gerakan badan.
Bacalah
kutipan cerita anak berikut dengan cermat!
Irfan
dan Burung Pelatuk
Hari Minggu, Irfan berjalan-jalan di sebuah hutan dengan Ayahnya. Ketika
tengah berjalan, ia memikirkan betapa indahnya pepohonan dan seluruh alam
semesta. Ayahnya kemudian bertemu dengan seorang teman, dan ketika dua orang
dewasa itu bercakap-cakap, Irfan mendengar sebuah suara:
Tuk,
tuk, tuk, tuk, tuk, tuk ... Suara itu datang dari sebuah pohon. Irfan
mendatangi burung yang membuat suara itu, dan bertanya:
"Mengapa
engkau memukuli pohon dengan paruhmu seperti itu?"
Burung
itu menghentikan pekerjaannya, dan berbalik memandang Irfan. "Aku seekor
pelatuk," jawabnya. "Kami membuat lubang di pepohonan, dan membangun
sarang-sarang kami di dalamnya. Kadang-kadang kami menyimpan makanan di dalam
lubang-lubang pohon ini. Lubang ini adalah lubang pertama buatanku. Aku akan
membuat ratusan lubang persis seperti ini." Irfan memperhatikan lubang
itu. "Bagus. Tapi, bagaimana engkau menyimpan makanan di tempat sekecil
ini?" Ia berpikir.
"Sebagian besar burung pelatuk memakan biji ek.
Biji-biji ini cukup kecil," si pelatuk menjelaskan. "Di dalam setiap
lubang, aku akan meletakkan sebiji ek. Dengan cara itu, aku dapat menyimpan
cukup makanan untuk diriku sendiri."
Irfan bingung. "Tapi, daripada capek-capek membuat puluhan lubang
kecil seperti ini," katanya, "kamu bisa membuat sebuah lubang besar
dan menyimpan semua makananmu di sana."
Burung
pelatuk itu tersenyum. "Kalau itu kulakukan, burung-burung lain akan
datang dan menemukan tempat persediaan makananku. Mereka akan mencuri biji ek.
Lubang yang kubuat berbeda-beda ukurannya. Ketika kuletakkan biji ek yang
kutemukan ke dalam lubang, kusimpan sesuai dengan ukurannya. Ukuran biji ek
persis sebesar lubang buatanku. Dengan cara itu, biji ek dapat menempati lubang
dengan pas, dan rapat! Allah menciptakan paruhku sedemikian rupa sehinga aku
dapat mengeluarkan biji ek dengan mudah dari dalam lubang. Karena itu, aku
dapat mengambil dari pohon tanpa kesulitan apapun. Burung-burung lain tak dapat
melakukan itu, karenanya, makananku aman. Tentu saja, aku tak punya otak untuk
memikirkan semua itu. Aku ini cuma seekor pelatuk. Allah membuatku melakukan
semua ini. Allahlah yang mengajariku bagaimana menyembunyikan makananku. Allah
yang menciptakan paruhku dengan cara yang tepat untukku. Sesungguhnya, ini
bukan hanya terjadi padaku—semua makhluk hidup mampu melakukan hal-hal yang
mereka lakukan karena itulah cara yang diajarkan Allah pada mereka."
Irfan setuju: "Engkau benar. Terimakasih telah
memberitahu aku semua itu ... Kamu mengingatkan aku pada kuasa Allah yang
luarbiasa."
Irfan mengucapkan selamat jalan pada teman kecilnya, dan
kembali pada Ayahnya. Ia sangat gembira karena ke manapun ia memandang, ia
selalu melihat keajaiban Allah lainnya
Sumber: http://id.harunyahya.com
Setelah cerita di atas kamu baca dan pahami kamu
hendaknya dapat menceritakan kembali cerita anak di atas. Bagaimana agar kamu
dapat menceritakan kembali cerita di atas dengan baik, maka kamu harus
memperhatikan hal-hal berikut:
1. Judul cerita.
2. Hal-hal yang
menarik dari cerita-cerita tersebut.
3. Hal-hal yang
tidak menarik dari cerita.
4. Tokoh-tokoh
dalam cerita.
5. Watak para
tokoh.
6. Runtutan
cerita, yaitu kapan terjadinya dan di mana kejadiannya.
7. Konflik dalam
cerita.
8.
Penyelesaian dalam cerita.
Susunlah hal-hal di atas dengan runtut
berdasarkan cerita yang kamu baca di atas. Setelah itu, ceritakanlah kembali
cerita di atas dengan bahasamu sendiri berdasarkan hal-hal di atas. Begitulah
cara menceritakan kembali sebuah cerita sesuai dengan urutan peristiwa dalam
suatu cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar