Bermain Peran Improvisasi
Bermain peran adalah melisankan dan memerankan tokoh
cerita drama sesuai dengan wataknya. Drama adalah karya sastra yang
menggambarkan kehidupan dan watak tokoh melalui tingkah laku (akting) dan
dialog yang dipentaskan. Drama merupakan salah satu genre sastra yang syarat
akan sisi-sisi kemanusiaan. Dalam drama, ditampilkan berbagai prilaku manusia
yang terangkum dalam dialog-dialog setiap tokohnya.
Ketika bermain peran,
baik menggunakan naskah atau tanpa naskah, setiap
pemain harus memahami teknik akting. Adapun hal yang harus diperhatikan para pemain, antara lain:
1. Harus
berperan sebagai tokoh dengan sungguh-sungguh,
2. Dapat bekerja
sama dan kompak dalam permainan,
3. Tidak lari
dari alur cerita,
4. Dialog dan
pelafalan (intonasi dan artikulasi) jelas, dan
5. Anggota badan
yang digerakkan mencerminkan karakter tokoh.
Improvisasi merupakan cara pengungkapan
yang dilakukan secara spontan atau tanpa terencana terlebih dahulu. Biasanya
drama yang bersifat improviasi hanya menggunakan kerangka naskah yang
menyajikan kronologi cerita, artinya tokoh yang bermain tidak sesuai dengan apa
yang tertulis di naskah, namun naskah dijadikan hanya sebagai pedoman saja. Hal
ini biasanya dilakukan untuk kenyamanan pemain dalam memainkan tokohnya.
Teknik improvisasi tidak memerlukan
keahlian yang khusus, namun memerlukan keberanian dan latihan. Karena teknik
improvisasi tidak ada di dalam naskah, dan pemain harus mampu berperan sendiri
seperti ketika ada di dalam naskah. Teknik improvisasi sangat menguntungkan
jika pada saat bermain, teman berdialog lupa dialog yang harus ia ucapkan. Maka
teman bicara yang sebelumnya paham dialog dan isi cerita, mampu berimprovisasi
sebelum teman mainnya ingat kembali teks yang sebelumnya ia lupakan.
Ada tiga macam tekanan ketika membaca
ataupun melisankan naskah drama:
1.
Tekanan dinamik, yakni
tekanan yang diberikan terhadap kata atau kelompok kata tertentu dalam kalimat,
sehingga kata atau kelompok kata tersebut terdengar lebih menonjol dari
kata-kata yang lain.
Misalnya, “Engkau boleh pergi, tapi tinggal semua yang kau pakai sebagai
jaminan!” (Kata-kata yang bercetak tebal menunjukkan perintah untuk
meninggalkan semua, bukan pergi begitu saja).
2.
Tekanan tempo, yakni tekanan
pada kata atau kelompok kata tertentu dengan jalan memperlambat pengucapannya.
Kata yang mendapatkan tekanan tempo diucapkan mengeja suku katanya.
Misalnya, “Engkau boleh pergi, tapi ting-gal-se-mu-a yang kau pakai sebagai
jaminan!”
3.
Tekanan nada, nada lagu yang
diucapkan secara berbeda-beda untuk menunjukkan perbedaan keseriusan orang yang
mengucapkannya.
Misalnya, “Engkau boleh pergi. Tapi tinggal semua yang
kau pakai sebagai jaminan!”
Contoh
di atas bisa diucapkan dengan tekanan nada yang menunjukkan keseriusan atau
ancaman jika diucapkan secara tegas. Akan tetapi, kalimat tersebut bisa juga
diucapkan dengan nada bergurau jika pengucapannya disertai dengan senyum dengan
mimic yang ramah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar